Media Briefing tentang Analisis Daya Dukung dan Daya Tampung Pulau Bali

daya dukung daya tampung

Menyadari peran penting media sebagai penyebar informasi, maka PPE Bali dan Nusra kembali ┬ámengadakan kegiatan media briefing kepada rekan – rekan media. Media briefing yang mengambil tema “Daya Dukung dan Daya Tampung Pulau Bali” ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap permasalahan lingkungan secara lebih komprehensif.

Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor PPE Bali dan Nusra ini dihadiri oleh 17 awak media, baik media cetak maupun media elektronik. Bertindak sebagai narasumber adalah Kepala PPE Bali dan Nusra, Novrizal Tahar, dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Udayana, Prof. Ir. I Wayan Arthana, MS., Ph.D.

Novrizal taharMenurut Kepala PPE Bali dan Nusra, indeks Gini Ratio Pulau Bali pada tahun 2013 adalah 0,4. Hal ini sebagai tanda terdapatnya persoalan serius yang harus segera ditangani terkait pembangunan ekonomi. Disamping itu terjadinya ketimpangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) antar Kabupaten/Kota akan menggoda daerah yang memiliki PAD rendah untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya untuk peningkatan ekonominya. “Bangli yang merupakan daerah penyangga jika dieksploitasi seperti di daerah bagian selatan Bali maka akan menjadi “Puncak jilid II” dan daerah bagian selatan Bali akan menjadi “Jakarta jilid II”, demikian imbuhnya. Untuk itu pembangunan di Bali sebaiknya tidak dilakukan secara parsial. Namun haruslah saling mendukung antara satu daerah dengan daerah lainnya. Hal senada juga ditekankan oleh Kepala PPLH UNUD, bahwa Pulau Bali perlu menerapkan konsep “One Island One Management“. Konsep desentralisasi yang selama ini diterapkan telah berimplikasi buruk terhadap keberlanjutan Pulau Bali, karena semua daerah berusaha mengejar PAD yang sebesar – besarnya.

Hal lain yang disampaikan adalah luas kawasan hutan di Bali dapat dikatakan masih kurang, karena luasannya masih belum memenuhi 30% dari luas Pulau Bali sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Namun luasan tersebut sesungguhnya masih dapat dipenuhi melalui pengembangan hutan desa/rakyat.

Isu lain yang perlu mendapat penanganan serius adalah tingginya laju konversi lahan di Pulau Bali. Mengingat hal tersebut ikut berkontribusi terhadap penurunan daya dukung Pulau Bali. Dimana menurut Prof. Ir. I Wayan Arthana, MS., Ph.D, saat ini daya dukung Pulau Bali telah mengalami penurunanan.

Menurut Novrizal Tahar, beberapa konsep pendekatan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan dapat dilakukan dalam peningkatan dan perbaikan daya dukung dan daya tampung Pulau Bali. Pertama, pengembangan instrumen ekonomi lingkungan “Payment of Environmental Services“, bank sampah dan insentif bagi masyarakat untuk mempertahankan tata guna lahannya. Kedua, perlu dilakukan rehabilitasi, remediasi, dan restorasi kawasan ekosistem yang rusak dan cemar. Ketiga, pengembangan ukuran kinerja (Indeks Daya Dukung, Indeks Tata Kelola Hutan, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup). Keempat, sosialisai dan kampanye, dan terakhir adalah komitmen serta penegakan hukum.

Top