Batok Kelapa menjadi Briket

20140603120829-IMG_1003_(FILEminimizer)

Bali sebagai Pulau Dewata, telah menjadi simbol pariwisata Indonesia selama bertahun-tahun. Namun sebagai simbol pariwisata Indonesia, Bali telah menjadi sorotan dunia. Pada tahun 2011, Pulau Dewata ini mendapatkan sorotan negatif.  Dalam artikel yang berjudul “ Holidays in Hell; Bali’s Ongoing Woes”, Majalah Times mendeskripsikan muat artikel yang berjudul “Bali Pulau Neraka. ” (Holidays in Hell:Bali’s Ongoing Woes” yang ditulis oleh Andrew Marshall.  Artikel  yang ditulis oleh Andrew Marshall ini  mengupas tentang tercemarnya pantai-pantai di Bali oleh sampah.

Diperlukan upaya perbaikan dari seluruh pemangku kepentingan untuk mengembalikan citra Bali sebagai tempat tujuan wisata. AQUA, sebagai salah satu pemangku kepentingan, berinisiatif menjalankan Program  Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat  di Tanah Lot, yang merupakan simbol pariwisata Bali.  Program yang dimulai pada Bulan Juni 2011, dirancang  dalam tiga fase dan dilaksanakan selama tiga tahun. Dalam pelaksanaannya melibatkan  Yayasan Korpri Provinsi Bali, Manajemen Tanah Lot, Universitas Warmadewa, Pemerintah Kabupaten Tabanan, Desa Adat Braban, Paguyuban Hotel Bali & Yayasan TrihitaKarana.

Fase pertama diawali dengan meluncurkan Gerakan Masyarakat Peduli Sampah (Gemaripah) pada 2 Desember 2011Peluncuran dilakukan dalam sebuah kegiatan kerja bakti membersihkan kawasan Tanah Lot yang melibatkan 600 orang. Dalam kegiatan ini, AQUA juga memberikan sarana dan prasarana  untuk menjaga kebersihan lokasi wisata, yang berupa;

  1. Bak sampah yang berjumlah 12 pasang (12 organik dan 12 non organikc) dan 40 bak sampah
  2. Gerobak sampah berjumlah 4 buah
  3. Papan himbauan berjumlah 10 buah
  4. Stiker promosi kebersihan berjumlah 1000 buah
  5. Dua sepeda motor pengangkut sampah  dan
  6. Pembuatan Himbauan Buang Sampah pada tempatnya yang diputar setiap 5 menit setiap harinya

Untuk memastikan keberlanjutan Gemaripah dan pengelolaan sampah di Tanah Lot, AQUA mendorong pembentukan Kelompok Masyarakat Sadar Sampah yang diberi nama Gemaripah Tanah Lot Serasi. Para anggota kelompok ini merupakan kader lingkungan yang mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan sampah melalui pendampingan, pelatihan dan studi banding. Mereka aktif melakukan pengelolaan sampah yang dihasilkan kegiatan pariwisata di kawasan Tanah Lot sekaligus juga berperan dalam memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah yang benar kepada masyarakat.

Salah satu jenis sampah yang banyak dihasilkan di Tanah lot  dan mendesak untuk ditangani adalah sampah batok kelapa muda. Rata-rata perharinya sampah batok kelapa muda, mencapai 2 truk sedangkan pada musim ramai/liburan mencapai 6 truk

Upaya penangan yang dilakukan adalah mengolah sampah batok kelapa muda menjadi briket yang mempunyai nilai jual, sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi anggota Kelompok Gemaripah Tanah Lot Serasi yang mengelolanya. Briket dapat menjadi pengganti bahan bakar arang yang biasa digunakan hotel untuk kegiatan outdoor , seperti pesta barbeque.

Pengelolaan briket batok kelapa muda melibatkan banyak pihak. Yayasan Korps Pegawai Negeri (Korpri) Bali merupakan pengelola program yang bertugas mendampingi anggota kelompok dalam aktivitas rutin,  Desa Adat Braban  telah memberikan ijin untuk menggunakan lahan  milik Desa Adat Braban sebagai sebagai lokasi pembuatan briket, Pemda Tabanan memberikan bantuan untuk pengadaan rumah pembuatan briket. Sementara AQUA memfasilitasi pengadaan mesin penggiling dan oven untuk pembuatan briket. Sedangkan Manjamen pengelola Tanah Lot dan pihak Yayasan Trihitakarana bertindak sebagai perantara dengan Paguyuban Hotel untuk memasarkan briket..

Kerja sama para pihak telah membuahkan hasil. Saat ini, Paguyuban Hotel   telah menyatakan berminat membeli briket batok kelapa “Kuud Semambuh Tanah Lot”, untuk digunakan di jaringan hotel yang berada di bawah paguyupannya.  Dengan terbukanya pasar, maka fase kemandirian bagi Kelompok Gemaripah telah tiba.

Gerakan Masyarakat Peduli Sampah (Gemaripah)  menjadi bukti bahwa keterlibatan seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci untuk mengatasi permasalahan sampah. Diharapkan program ini menjadi acuan bagi daerah wisata lain dalam menjalankan pengelolaan sampah sehingga dapat mengembalikan citra Bali sebagai Ikon wisata Indonesia

Top